Hari Ini
 
Fri
Oct
2014
31
 
Menu Utama
Utama
Info
Profile
Jaringan
Pencarian
Kotak saran
Visi dan Misi
Galleri Foto
Kontak Kami
Karir
Pelayanan
Medical Check Up
Klinik Jelita
Akupuntur
Form Login
Username

Password

Remember me
Password Reminder
No account yet? Create one
CornerAds By F-Cimag-In
Online
We have 3 guests online
Live Clock Module
 
Utama arrow Umum arrow Vaksin Tifus, Murah dan Efektif
Vaksin Tifus, Murah dan Efektif PDF Print E-mail
 25 Juli 2009

 

      SEBUAH studi terbaru di India melaporkan,vaksin Vi tak hanya efektif melindungi individu yang divaksin dari demam tifoid, keluarga dan lingkungan di sekitarnya pun dapat ikut merasakan manfaatnya.

Berdasarkan uji coba selama dua tahun yang dilakukan pada penduduk di sebuah area perkampungan kumuh India, vaksin tifoid ternyata efektif mencegah timbulnya demam tifoid atau yang populer dengan tifus. Selain membantu mencegah infeksi kuman tifoid pada individu yang divaksin, orang lain di sekelilingnya yang tidak divaksinasi juga akan ikut merasakan manfaatnya.

 

Dalam dunia kesehatan, fenomena ini disebut herd immunity,yaitu ketahanan kelompok terhadap serangan penyakit, di mana sebagian besar anggotanya bersifat imun (kebal).

Guna mengetahui efektivitas pemberian vaksin tifoid atau disebut juga vaksin Vi,para peneliti melibatkan partisipan 37.673 anak usia 2 tahun atau lebih yang tinggal di wilayah kumuh Kalkuta, India.

Sejumlah partisipan dipilih secara acak untuk menerima satu dosis vaksin Vi, atau (sebagai perbandingan) ada pula yang diberi vaksin hepatitis A nonaktif. Pemberian vaksin dimulai akhir 2004 dan terus dipantau perkembangannya hingga 2 tahun. Hasilnya, seperti yang dikemukakan Dr Dipika Sur dari Institut Nasional India untuk penyakit tifus dan kolera,vaksin tifoid ini bekerja efektif pada 61 persen partisipan.

Efek perlindungan ini menurun menjadi 56 persen pada anak usia 5-14, dan 46 persen pada usia 15 atau lebih. Sementara itu, efektivitas tertinggi didapat pada anak-anak yang lebih muda (usia 2-5 tahun), yakni mencapai 80 persen. Demikian halnya orang di sekeliling anak yang divaksin yang kontak dengan anak tersebut, vaksin ini memberi efek proteksi 44 persen.

"Dalam komunitas secara menyeluruh, vaksinasi mencegah 57 persen kasus demam tifoid, baik pada individu yang divaksinasi maupun orang lain di sekeliling individu tersebut," kata Sur.

"Ini informasi baru yang penting," komentar Dr Myron Levine dari Sekolah Kedokteran Universitas Maryland.

"Perlindungan secara tidak langsung pada individu yang tidak divaksinasi dengan vaksin Vi ke depannya dapat membantu program imunisasi sekolah untuk mengendalikan wabah bakteri penyebab tifus ini," imbuhnya.

Temuan yang lantas diterbitkan dalam New England Journal of Medicine ini mungkin dapat mendesak WHO untuk segera memulai kampanye vaksinasi di negaranegara miskin guna melawan penyakit terkait infeksi bakteri yang bisa berakibat fatal ini.

WHO merekomendasikan pemakaian vaksin Vi di negara-negara berkembang, yang mana harganya hanya sekitar 50 sen dan hanya diperlukan sekali vaksin. Institut Vaksin Internasional (IVI) yang berbasis di Seoul,Korea Selatan, mensinyalir selama ini banyak ibu enggan melakukan vaksinasi tifoid bagi anaknya karena masih ragu akan efektivitasnya, terutama bagi anak-anak prasekolah.

"Perlindungan bagi anak usia di bawah lima tahun itu penting karena rentang usia tersebut paling berisiko terkena demam tifoid di area mana pun manakala penyakit ini sedang mewabah," kata Dirjen IVI John Clemens.

Demam tifoid merupakan masalah serius di negara-negara berkembang,yang mana mengenai sekitar 22 juta anak-anak maupun dewasa per tahun. Setiap tahun, sekitar 216.000-600.000 di antaranya meninggal dunia.

Salmonella Typhi, kuman penyebab tifoid, dapat menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi oleh agen penyakit ini. Kontak yang bersifat langsung dan intens dengan orang yang terinfeksi juga meningkatkan risiko seseorang untuk tertular, terlebih jika daya tahan tubuhnya tengah melemah. Bakteri ini dapat terbawa dalam saluran pembuangan atau aliran darah.

Orang yang terinfeksi biasanya akan menampakkan gejala demam tinggi, lemah, nyeri perut, pusing, mual atau muntah. Ada pula yang disertai diare yang kadang-kadang bercampur darah. Antibiotik sejak lama telah digunakan untuk menangani demam tifoid.

Tanpa pemberian antibiotik, demam tifoid dapat berlangsung selama beberapa minggu, bahkan berbulan-bulan. Adapun sekitar 20 persen kasus di antaranya meninggal dunia. Kekhawatiran lainnya adalah dengan semakin banyaknya kuman yang kebal obat (resisten) sehingga penyakit ini pun kian sulit ditangani.

Vaksin memang telah tersedia, sayangnya belum dimanfaatkan secara luas dalam program kesehatan yang menyeluruh. Sejumlah negara berkembang dan negara maju memang sudah menerapkannya, tapi di negara miskin persentasenya masih amat sedikit.