Hari Ini
 
Sat
Sep
2018
22
 
Menu Utama
Utama
Info
Profile
Jaringan
Pencarian
Visi dan Misi
Galleri Foto
Kontak Kami
Karir
Pelayanan
Medical Check Up
CornerAds By F-Cimag-In
Live Clock Module
 
Utama arrow Info arrow Umum arrow Waspadai Sick Building Syndrome!
Waspadai Sick Building Syndrome! PDF Print E-mail

 19 Juni 2009

 

    ANDA sering mengalami sakit kepala, iritasi mata, badan cepat letih, perut terasa kembung, hidung berair, tenggorokan gatal, sulit berkonsentrasi, kulit kering, dan batuk kering yang tak kunjung sembuh? Padahal Anda selalu berada di dalam ruangan? Hati-hati, bisa jadi Anda terkena Sick Building Syndrome!

Menurut dr Galih Sri Mahardjo dari Rumah Sakit Bhineka Bakti Husada, Pondok Cabe, Pamulang, Sick Building Syndrome adalah situasi di mana para penghuni gedung atau bangunan mengeluhkan masalah kesehatan dan kenyamanan yang akut, yang timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan dalam sebuah ruangan. "Kondisi seperti ini akan hilang ketika kita keluar dari ruangan kantor," katanya.


 

Sick Building Syndrome (SBS) ini merupakan radikal bebas yang menjadi sebuah senyawa reaktif yang berasal dari dalam tubuh sebagai hasil metabolisme atau akibat terpapar lingkungan luar. Senyawa ini memiliki ekstra energi yang banyak sehingga cenderung tidak stabil karena elektronnya tidak berpasangan.

Penyebab dan Gejala

Waktu kita hampir 90 persen dihabiskan dalam lingkungan kontruksi, baik itu di dalam kantor maupun rumah yang mungkin sekali kualitas udaranya tercemar oleh chemical yang berasal dari dalam maupun luar ruangan. Penyakit ini, SBS, sebetulnya sudah lama ditemukan di Amerika. Dan sudah banyak juga yang meninggal karenanya.

Sekitar 52 persen penderita, sambung dr Galih, mengalami gangguan pernapasan karena kurangnya ventilasi dalam gedung dan AC dengan suhu antara 20-23 derajat Celsius. Suhu udara seperti itulah yang membuat bakteri merugikan, seperti Chlamydia escheriachia dan Legionella spleluasa, masuk ke saluran pernapasan. "Mesin foto kopi yang ada di kantor juga dapat menyebabkan radikal bebas," tandasnya.

Udara yang tidak sehat itu terjadi karena terkontaminasi dengan sumber polutan, seperti asap rokok, ozon yang berasal dari mesin fotokopi dan printer, volatile organics compounds atau bahan kimia organik berbentuk gas yang berasal dari karpet, cat, bahan pembersih, dan dari debu atau karbon yang menempel. Saat berada di dalam tubuh dan beraksi dengan sel-sel, hanya ada dua kemungkinan. Sel tersebut akan mati atau akan berubah karakter menjadi kanker.

Setiap tiga detik, manusia pasti bernapas. Sekali tarikan napas, sebanyak 500 ml udara terhirup. Selama satu menit, kita bernapas. Sekali tarikan napas, sebanyak 500 ml udara terhirup. Selama satu menit, kita bernapas sekitar 20 kali. Bisa dibayangkan, berapa banyak udara yang tidak sehat dengan partikel-partikel polusi sebesar 10 mikron bisa mengakibatkan berbagai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Partikel polusi yang lebih kecil, sekitar 2,6 mikron, akan masuk ke paru-paru dan menjadi penyebab penyakit asma.

Debu-debu yang menempel pada barang-barang atau kertas yang tidak tersentuh di kolong-kolong meja juga mengganggu kesehatan. "Debu-debu itu pun bisa membawa partikel yang bisa membawa partikel yang bisa mengganggu kesehatan," tandasnya. Radikal bebas SBS bisa juga terjadi karena radiasi sinar ultraviolet, metabolisme dalam tubuh, radiasi ion, asap rokok, dan udara yang tidak sehat.

Keluhan yang paling sering muncul pada penderita SBS adalah sakit kepala, iritasi mata, badan cepat letih, perut terasa kembung, tenggorokan gatal, sulit berkonsentrasi, kulit kering, dan batuk kering yang tak kunjung sembuh. Memang penyakit yang ditimbulkan oleh SBS tidak seketika terjadi. Akan tetapi, jika terus menerus terkena dampak tersebut, bisa muncul berbagai penyakit dalam tubuh, seperti kanker, TBC, dan flu.

Pengobatan dan Pencegahan

Pada dasarnya tidak ada pengobatan. Yang ada hanya pencegahan. Pengobatannya tergantung pada keluhan yang dialami. Jika terjadi iritasi mata, dokter akan memberikan obat untuk mengatasi keluhan tersebut. "Ada baiknya pengobatan yang baik adalah dengan mencari sumber penyebabnya dan memperbaikinya," kata dr Galih.

Penderita batuk dan asma diharapkan tidak berada di ruangan yang lembap atau bersentuhan dengan benda lembap. Selain itu, diperlukan pengaturan sirkulasi udara setiap tiga jam sekali. Artinya, per tiga jam mesti ada pergantian udara. Udara kotor dibuang ke luar ruangan, diganti dengan udara yang bersih. Caranya dengan membuka jendela. Yang tak kalah pentingnya adalah menjaga kesehatan, yaitu berolahraga di luar ruangan dan mengonsumsi vitamin yang mengandung mineral trace element, seperti suplemen.