Hari Ini
 
Sat
Jul
2018
21
 
Menu Utama
Utama
Info
Profile
Jaringan
Pencarian
Visi dan Misi
Galleri Foto
Kontak Kami
Karir
Pelayanan
Medical Check Up
CornerAds By F-Cimag-In
Live Clock Module
 
Utama arrow Info arrow Umum arrow Bebaskan Indonesia dari Malaria
Bebaskan Indonesia dari Malaria PDF Print E-mail

 11 Mei 2009

 

   DITULARKAN oleh nyamuk Anopheles betina, penyakit ini masih menjadi ancaman di Indonesia. Melalui program "Counting Malaria Out" pemerintah berupaya menjadikan Indonesia bebas malaria. Malaria, jenis penyakit ini masih saja meresahkan.

Meski obat malaria sudah ditemukan ratusan tahun silam, tetap saja penyakit ini masih rajin mewabah di negara-negara berkembang. Indonesia adalah salah satunya. Sekira 100 juta kasus penyakit malaria terjadi setiap tahunnya dan sekitar 1 persen berakibat fatal.

 

Penggunaan residu insektisida efektif mencegah penyebaran penyakit ini dengan cepat. Sejak tahun 1950, malaria telah berhasil dibasmi di hampir seluruh Benua Eropa dan di daerah seperti Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Namun, penyakit ini masih menjadi masalah besar di beberapa bagian Benua Afrika dan Asia Tenggara.

Untuk menyandang predikat "bebas malaria" pemerintah Indonesia pun terus berupaya keras. Dengan slogan "Counting Malaria Out" pemerintah ingin memberantas tuntas penyakit malaria.

Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) dari Departemen Kesehatan, Dr Rita Kusriastuti M.Sc mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang masih terjadi transmisi malaria (berisiko malaria atau risk malaria). Hingga 2007 terdapat 396 Kabupaten (80 persen), termasuk daerah endemis malaria.

Jumlah kasus malaria di Indonesia juga masih cukup tinggi. Pada 2008 tercatat 1,65 juta kasus malaria. Jumlah penderita positif malaria (hasil pemeriksaan mikroskop positif terdapat kuman malaria) pada 2007 sekitar 311 ribu kasus, dan pada 2008 sekitar 266 kasus. Malaria merupakan salah satu penyakit berbahaya karena akan menyebabkan anemia, sel-sel darah merah hancur dirusak Plasmodium.

Bila malaria menyerang ibu hamil, maka janinnya akan kekurangan darah dan oksigen. Kekurangan darah dan oksigen pada janin akan menghambat pembentukan otak janin sehingga tidak sempurna dan lahirlah anak dengan kualitas berpikir rendah bahkan kematian.

Rita menuturkan, malaria menyerang hingga 30 persen pada ibu hamil dan inilah yang menjadi masalah serius karena ibu hamil yang terkena malaria akan mengalami kerusakan pada sel darah merah dan anemia. "Dampaknya akan sangat buruk bagi janin," tandasnya.

Selain menyebabkan turunnya kualitas sumber daya manusia, penyakit ini juga menyumbang angka kematian yang tinggi sehingga perlu ditangani secara serius dan konsisten. "Cegah malaria, buat malaria menjadi nol," kata Rita.

Salah satu program pemerintah untuk membebaskan Indonesia dari malaria adalah dengan membatasi kembang biak nyamuk dengan menjaga kebersihan lingkungan, khususnya sumber nyamuk. Pengobatan yang dilakukan hingga tuntas, diperlukan agar penyakit ini tidak terus berjangkit pada penderita.

Program eliminasi malaria tidak bisa dijalankan apabila hanya dilakukan Depkes, tetapi harus dilakukan lintas sektor. Semua pihak terlibat seperti perikanan untuk dapat menebar benih di daerah yang banyak perairan tenang dan pekerjaan umum untuk membangun kanal air.

"Dengan adanya sinergi dari berbagai pihak target Indonesia bebas malaria pada 2030 akan tercapai. Indonesia pun akan memiliki SDM yang berkualitas, dengan begitu pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan meningkat," ujar Rita optimis.

Dikatakan Guru Besar Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Inge Sutanto Mphil bahwa malaria harus ditangani dengan pengobatan yang sempurna.

"Pengobatan sempurna adalah pengobatan yang berhasil membunuh semua parasit malaria yang ada dalam tubuh penderita sehingga tidak akan terjadi kekambuhan kembali," ujarnya.

Inge menuturkan, obat yang paling efektif sekarang untuk mengobati malaria adalah golongan artemisinin, baik yang tanpa kombinasi (misalnya berupa suntikan) ataupun yang dikombinasi dengan obat malaria lainnya dan disebut dengan ACT (artemisinin based combination therapy).

Selain itu, memberantas sarang nyamuk, melipat kain-kain yang bergantungan, mengalirkan atau menimbun genangan air di sekitar rumah, dan menyemprot rumahrumah dengan racun serangga atau insektisida, serta membunuh jentik-jentik nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik juga menjadi cara untuk mencegah mewabahnya penyakit ini.

"Meski penyakit ini bisa disembuhkan dan upaya pembasmiannya telah dilakukan pemerintah sejak 1959, jumlah kasus penyakit itu di Tanah Air hingga kini masih tergolong tinggi," ucap Dirjen Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Tjandra Yoga Adhitama.

Menurut Tjandra, hal itu disebabkan penanganan malaria cukup kompleks. Penyakit itu dipengaruhi tiga hal yakni parasit, vector, dan kesehatan lingkungan. "Untuk mengatasi masalah itu, semua pihak harus bekerja sama," ucapnya.