Hari Ini
 
Sun
Nov
2018
18
 
Menu Utama
Utama
Info
Profile
Jaringan
Pencarian
Visi dan Misi
Galleri Foto
Kontak Kami
Karir
Pelayanan
Medical Check Up
CornerAds By F-Cimag-In
Live Clock Module
 
Utama arrow Info arrow Umum arrow Nyeri Perut Gejala Stres
Nyeri Perut Gejala Stres PDF Print E-mail

11 April 2009

 

   GEJALA stres pada setiap orang berbeda-beda. Namun yang paling banyak ditemukan adalah nyeri perut berulang, yang semakin terasa jika perasaan tidak tenang atau sedang tertekan.

Kesibukan dan aktivitas yang sangat padat, membuat banyak orang mengalami stres. Namun sayangnya, tidak semua orang merasa kalau dirinya sedang stres, atau tidak menyadari kalau dirinya sedang mengalami gangguan psikis. Salah satu gejala stres yang paling sering muncul adalah nyeri perut berulang yang disebut irritable bowel syndrome (IBS). Parahnya nyeri perut ini bisa terjadi sepanjang hari.

 

Menurut penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan Indonesia (Depkes RI), diketahui bahwa 80 persen-90 persen kasus nyeri perut berulang lebih disebabkan faktor psikis. Biasanya, nyeri ini semakin memburuk pada saat stres, cemas atau depresi. Memang tidak semua nyeri perut adalah gejala stres, bisa juga nyeri perut tersebut gejala penyakit lain. Biasanya nyeri perut akibat penyakit fisik tidak menghilang atau timbul dalam satu siklus, sering kali dipicu kegiatan atau makanan tertentu. Nyeri cenderung timbul pada sisi perut tertentu, tidak dirasakan di sekeliling pusar dan bisa menjalar ke punggung.

Sedangkan nyeri perut akibat faktor psikis bisa terjadi setiap hari atau sewaktu-waktu. Kadang seseorang tidak merasakan nyeri selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Nyeri biasanya bersifat tumpul, jarang menyebabkan seseorang terbangun dari tidurnya pada malam hari, tetapi mungkin akan terbangun lebih awal dari biasanya.

Nyeri perut akibat faktor psikis paling sering dirasakan di sekitar pusar. Jika nyeri dirasakan semakin jauh dari pusar, maka semakin besar kemungkinan penyebabnya adalah kelainan fisik. Nyeri perut karena faktor psikis kadang menyerupai nyeri karena kelainan fisik, tetapi biasanya nyeri psikis sifatnya tidak berubah atau tidak semakin memburuk.

"Mendiagnosis nyeri perut yang berhubungan dengan faktor psikis mungkin agak sulit. Biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Seseorang yang berada dalam keadaan stres, misalnya mengalami masalah keuangan atau kehilangan orang yang disayanginya, lebih rentan mengalami gangguan nyeri perut seperti ini," kata psikolog dari Universitas Indonesia, Dr Hermawan Sugianto.

Ditambahkan Hermawan, nyeri perut berulang akibat faktor psikis merupakan nyeri yang timbul karena stres dan ketegangan. Orang terdekat bisa membantu dengan sebanyak mungkin menghibur penderita, misalnya membantu menghadapi stres dan mendorong penderita untuk melakukan aktivitas normal meskipun perutnya sedang nyeri.

"Semakin tinggi tingkat stres seseorang, biasanya nyeri perutnya akan terasa. Itu bisa mengganggu aktivitas karena nyerinya akan hilang, jika perasaan penderita telah tenang," tutur psikolog berkacamata tersebut.

Jika telah dilakukan berbagai usaha, tetapi masih merasakan nyeri perut (terutama pada saat mengalami depresi atau menghadapi masalah perkawinan ataupun keuangan), Hermawan menyarankan agar penderita nyeri perut dibawa untuk mendapatkan bantuan dari ahli jiwa. "Di sanalah pentingnya seorang psikolog, mereka bisa mengetahui dan menyarankan pasiennya untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan. Atau setidaknya kalau mereka ke psikolog, mereka bisa menemukan solusi agar stres itu hilang," kata dia.

Hermawan, pegawai swasta di Jakarta, Anton Wildan yang juga pengusaha muda, mengaku pernah mengalami nyeri perut berkepanjangan karena stres yang berlebihan. Menurutnya, gejala-gejala stres berawal dari gangguan mental, dilanjutkan dengan sosial baru yang terakhir menyangkut fisik. "Selain mengalami nyeri perut, kalau saya stres, saya juga merasa kelelahan, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, bahkan sering merasa sedih tanpa sebab," katanya.

Setelah berkonsultasi dengan psikiater, Anton mengaku merasa lebih baik. Bahkan, kini dia mengaku sudah bisa mengelola stres dengan baik. "Kalau sekarang saya stres, saya langsung melakukan konsultasi. Kalau tidak begitu stres, saya akan berlarut-larut," katanya lagi.

Hikmah yang didapat Anton setelah berhasil mengatasi stres yang menimpanya adalah dengan mengelola stres. Manajemen stres menurut dia adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memberi tuntutan yang berlebihan. "Belajarlah cara terbaik untuk merelaksasikan diri sendiri. Berlatihlah untuk menjernihkan pikiran. Buanglah pikiran yang mengganggu," kata dia.