Hari Ini
 
Sun
Jan
2018
21
 
Menu Utama
Utama
Info
Profile
Jaringan
Pencarian
Visi dan Misi
Galleri Foto
Kontak Kami
Karir
Pelayanan
Medical Check Up
CornerAds By F-Cimag-In
Live Clock Module
 
Utama arrow Info arrow Tips arrow Akupunktur Efektif Atasi "Mata Malas"
Akupunktur Efektif Atasi "Mata Malas" PDF Print E-mail

 05 Mei 2011

 

      KABAR gembira bagi anak-anak yang menderita lazy eye atau biasa disebut mata malas. Studi terbaru di Hong Kong mengungkapkan penyakit ini bisa diobati dengan akupunktur.

Menurut penulis studi Dr Dennis Shun-Chiu Lam, yang memimpin Department of Ophthalmology and Visual Sciences di Chinese University of Hong Kong, pada anak-anak yang berusia tiga sampai tujuh tahun, metode pengobatan akupunktur bersama penggunaan kacamata dapat membantu meningkatkan penglihatan, dibandingkan dengan hanya memakai kacamata.

Penyakit mata malas (lazy eye) atau biasa disebut juga dengan amblyopia adalah ketika penglihatan pada satu mata lebih buruk daripada yang lain. Menurut American Academy of Ophthalmology, sekitar dua sampai tiga dari 100 orang menderita mata malas.

 

Mata malas berbeda dengan juling atau strabismus, yaitu ketika titik penglihatan berada dalam dua arah yang berbeda -walaupun banyak orang sering menggunakan kata “mata malas” untuk menggambarkan keduanya.

Di awal penelitian, semua kerusakan penglihatan anakanak yang menjadi partisipan berada dalam tingkat yang hampir sama, yaitu 20/63. Anak-anak yang menjalani pengobatan akupunktur dan menggunakan kacamata ternyata memiliki level penglihatan rata-rata 20/32 di mata yang kabur. Hal ini dibandingkan dengan level penglihatan 20/40 pada anak-anak yang hanya memakai kacamata.

Dr Marc Lustig, asisten profesor di Department Ophthalmology, New York University Medical Center, Amerika Serikat, menyebutkan, perbedaan antara 20/32 dan 20/40 adalah tentang perbandingan antara mereka yang dapat membaca hingga satu baris lebih bawah pada eye chart -tabel yang digunakan untuk memeriksa ketajaman penglihatan.

“Namun, tidak banyak perbedaan antara dua nilai penglihatan ini dalam kehidupan nyata,” kata Lustig, yang tidak bekerja pada studi ini, seperti dikutip Reuters Health.

“Dan, penelitian ini tidak akan mengubah cara para dokter untuk mengobati mata malas pada anak-anak,” lanjutnya.

Mata malas biasanya diobati dengan kacamata atau plester untuk melatih mata yang rusak untuk bekerja lebih baik. Jika tidak diobati, anakanak bisa mengalami kerusakan persepsi jarak atau malah kehilangan penglihatan secara permanen.

Menurut American Academy of Ophthalmology, setelah anak berusia sembilan tahun atau lebih, kerusakan ini tidak dapat lagi diperbaiki. Sebuah studi sebelumnya oleh kelompok yang sama menyatakan bahwa akupunktur dapat bekerja dengan baik sebagai plester untuk mengobati mata malas. Untuk studi ini, para peneliti memberikan kacamata China yang bersifat korektif untuk 83 anak-anak dengan mata malas.Setelah itu diukur seberapa baik mereka bisa melihat dari kedua mata.

Setengah dari anak-anak tersebut diobati dengan akupunktur lima kali seminggu selama 15 minggu secara bergantian.Mata mereka diuji pada 15, 30, dan 60 minggu setelahnya. Setelah 30 minggu, ketika kedua kelompok telah menerima baik kacamata dan akupunktur, level penglihatan di mata yang buruk adalah sekitar 20/30 pada kedua kelompok. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ophthalmology ini sebagai crossover study (studi silang).

Itu berarti bahwa perawatan kelompok bergantian sehingga keduanya mempunyai waktu menggunakan kacamata saja dan dengan dan tanpa akupunktur.

“Dengan desain silang, setiap anak akan dijanjikan memiliki kesempatan untuk menerima pengobatan akupunktur sehingga lebih mudah untuk merekrut subjek penelitian dan dapat menurunkan angka putus sekolah,” kata Lam.

“Ini adalah keterbatasan yang serius,” ucap Dr Peter Lipson, internis di Michigan bagian tenggara, Amerika Serikat, yang tidak bekerja pada studi ini.

“Saya tidak berpikir ada niat jahat, tetapi jika Anda sudah tahu bahwa ini adalah orang-orang yang suka akupunktur, mereka akan sangat rentan terhadap efek bagus plasebo,” komentarnya.

“Karena kedua kelompok menerima pengobatan akupunktur, manfaat (dari pengobatan ini) akan sama di kedua kelompok dan efek plasebo seharusnya sudah diminimalkan,” kata Lam.

Secara keseluruhan, sebenarnya penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa metode akupunktur adalah sesuatu yang menggunakan efek plasebo.

“Jabat tangan yang hangat dan senyum, setidaknya juga bisa dilakukan,” tutur Lipson.

Biaya pengobatan akupunktur sangat bervariasi, bergantung pada tempat Anda tinggal. Namun, umumnya berkisar dari USD25 (sekitar Rp225.000) sampai USD120 (Rp1.080.000) dalam sekali pengobatan. Dengan nilai seperti itu, berarti biaya perawatan pasien mata malas berdasarkan studi ini akan menelan antara USD1.875 (Rp16,875 juta) dan USD9.000 (Rp18 juta).

“Pemakaian plester mata biayanya sekitar USD10 (Rp90.000) per bulan,” kata Lustig.