Hari Ini
 
Sun
Jan
2018
21
 
Menu Utama
Utama
Info
Profile
Jaringan
Pencarian
Visi dan Misi
Galleri Foto
Kontak Kami
Karir
Pelayanan
Medical Check Up
CornerAds By F-Cimag-In
Live Clock Module
 
Utama arrow Info arrow Tips arrow Gizi Seimbang, Optimalkan Tumbuh Kembang Anak
Gizi Seimbang, Optimalkan Tumbuh Kembang Anak PDF Print E-mail

06 Maret 2011

 

      PADA tahun pertama, bayi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, dimana sel otak tumbuh dengan cepat (Window of Opportunity). Artinya, komponen otak ikut ‘bertanggung jawab’ terhadap kecerdasan bayi. Hanya terjadi sekali dalam seumur hidup loh! Dan semua itu dapat dicapai jika kebutuhan gizi anak terpenuhi.

Penuhi zat gizi makro dan mikro

Menurut Idrus Jus’at, PhD. (Ahli Gizi) dari Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul, Jakarta, untuk mencapai pertumbuhan yang optimal, seorang bayi memerlukan semua zat gizi makro dan zat gizi mikro yang sesuai antara jumlah dengan kebutuhannya.

Misal, jika berat lahir 3,2 kg maka saat usia 12 bulan, berat badannya (BB) menjadi 3x berat badan lahir - berkisar 9,6 kg. Pasalnya, pada tiga bulan pertama, pertambahan BB bayi berkisar 800 g per bulan. Baru, pada usia selanjutnya pertambahan BB bayi hanya berkisar 300-600 g per bulan. Nah, untuk mencapai berat badan yang sesuai dengan usia bayi, diperlukan zat gizi yang seimbang, seperti:


- Zat gizi makro yang dibutuhkan dalam jumlah cukup besar.

1. Karbohidrat sebagai sumber energi utama pada tubuh, bisa diperoleh dari beras, jagung, ubi, roti atau mi.


2. Lemak juga sumber energi tubuh. Dibagi menjadi lemak ‘baik’(kolesterol HDL) - asam lemak tak jenuh, terdapat pada minyak goreng yang terbuat dari biji-bijian seperti jagung, kacang tanah, kedelai, zaitun dan biji bunga matahari. Sedangkan lemak ‘jahat’ (kolesterol LDL) - asam lemak jenuh dapat diperoleh dari gajih (lemak daging), jeroan, otak, margarin, santan, minyak sawit, minyak kelapa.


3. Protein, yaitu ‘zat pembangun’ diperoleh dari sumber hewani (ikan, daging, telur dan susu) maupun sumber nabati (kacang-kacangan).


- Zat gizi mikro. Walaupun jumlah yang dibutuhkan sedikit namun jangan disepelekan karena berfungsi sebagai ‘zat pengatur’ dan tidak dapat diproduksi tubuh sendiri.

1. Vitamin. Terdiri dari vitamin A (wortel), B kompleks (susu dan olahannya pada vitamin B2), vitamin C (jeruk), vitamin D (kuning telur), vitamin E (kecambah) dan vitamin K (susu).


2. Mineral. Zat besi (hati), kalsium (susu), yodium (garam beryodium), magnesium (serealia) dan phospor (daging ayam).


Sesuaikan tahapan usia bayi!

Pemberian MPASI sebaiknya tidak terlalu cepat atau terlambat. Jika terlalu cepat (sebelum usia 6 bulan), insting bayi untuk mengisap akan menurun sehingga jumlah ASI yang dikonsumsi juga menurun. Di samping pencernaannya belum sempurna, kekurangan gizi banyak terjadi karena pemberian MPASI yang terlalu dini.

 

Namun jika terlambat (hanya ASI saja setelah 6 bulan ke atas) dapat berdampak negatif bagi pertumbuhannya. Si kecil bisa menderita kekurangan gizi, berat dan panjangnya tidak sesuai dengan yang seharusnya dicapai. Karena ASI sesudah usia 6 bulan sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan bayi lagi.

Usia 0-6 bulan

ASI merupakan satu-satunya (the one and only) makanan yang mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi usia 0-6 bulan. ASI mengandung energi, zat gizi, antibodi dan sel darah putih yang dapat melindungi bayi dari berbagai infeksi. Selain itu ASI juga kaya akan Omega 3, suatu asam lemak yang sangat penting untuk perkembangan otak.

Penelitian terakhir membuktikan bahwa bayi yang diberikan ASI mempunyai IQ lebih tinggi daripada bayi yang diberikan susu formula. Penelitian lain juga membuktikan bahwa memberikan ASI selama 13 minggu atau lebih mengurangi bayi dari risiko infeksi saluran pencernaan dan infeksi pernapasan. Pemberian ASI juga menunjukkan dapat memperlambat/mengurangi terjadinya alergi pada anak-anak. Utamanya bagi mereka yang memiliki sejarah alergi dikeluarganya seperti asma, eksim dan alergi makanan.

Pemberian ASI dapat mulai dilakukan sejak satu jam setelah bayi dilahirkan, inisiasi menyusui dini (IMD), guna pemberian colostrum – ASI yang keluar pada hari ke-1-3 setelah melahirkan - yang merupakan sumber antibodi yang sangat penting bagi bayi.

Selain kolostrum, ASI juga terdiri dari foremilk – ASI yang agak bening dan sedikit mengandung lemak -, dan juga hindmilk – ASI yang lebih kental dan banyak mengandung lemak, biasanya keluar setelah foremilk.

Usia 6-8 bulan

Lepas ASI eksklusif, Moms mulai dapat memperkenalkan MPASI. “Pada usia 6 bulan sistem pencernaan sudah berkembang serta siap mencerna makanan lain. Selain itu ASI sudah tidak mampu memenuhi kebutuhannya yang semakin meningkat, karena itu perlu diberi MPASI (ASI tetap makanan utamanya) secara bertahap,” jelas Idrus PhD lebih lanjut.

Untuk langkah awal, berikanlah makanan bertekstur lunak dan cair seperti bubur susu, bubur beras, sari buah atau pure buah. Pure adalah MPASI pertama yang diperkenalkan kepada bayi, karena bentuknya yang tidak pekat. Pure dapat dibuat dari satu jenis buah dan sayuran atau campuran dari keduanya. Cairan pure yang dapat digunakan adalah ASI, susu formula atau air matang. Caranya, berikan 1-2 sendok makan pure kepada bayi. Jika tidak ada masalah, tingkatkan secara bertahap.

Jenis buah yang dapat diberikan berupa pisang (pisang raja atau pisang ambon), alpukat, labu dan pepaya. Setiap jenis buah diberikan 2-3 hari berturut-turut agar bayi dapat mengenal rasa. Setelah itu, baru mencoba buah yang lain.

Usia 8-10 bulan

Pada usia ini ekplorasi bayi akan makanan sudah lebih kaya dan mulai menyukai beragam makanan yang diberikan.

Karbohidrat kompleks dan makanan yang mengandung protein, seperti ikan, sudah dapat diberikan. Kandungan gizi bubur juga dapat ditambah dengan zat lemak seperti minyak dan santan. Variasi rasa juga mulai dikenalkan, seperti manis, asin, gurih dan sedikit asam agar bayi mulai mengenal rasa.

Bayi juga sudah bisa diberikan finger foods, karena refleks mengenggam tangan pada bayi mulai berkembang baik. Finger foods berguna melatih refleks menggenggam dan proses pencernaan seperti mengigit dan mengunyah, serta membantu bayi mengurangi rasa gatal pada gusi akibat gigi yang mulai tumbuh.

Usia 10-12 bulan

Pada usia ini, gigi–geligi bayi sudah mulai tumbuh. Makanan yang dapat diberikan semakin beragam karena semakin matangnya fungsi pencernaan bayi, seperti pasta, makaroni dan mi. Sehingga, pilihan bahan makanan karbohidrat semakin banyak dengan pengelolaan menu yang semakin variatif.

Karena kegiatan bayi sudah semakin meningkat - belajar berjalan dan melakukan kegiatan fisik lain - kebutuhan energi pun lebih besar. Berikan makanan berkarbohidrat sebanyak 3 kali sehari dengan protein hewani 1 kali sehari. Makanan utama diberikan dalam bentuk nasi tim. Nasi tim sudah hampir menyerupai menu nasi orang dewasa, hanya teksturnya sedikit lebih lembut, dengan cincangan lauk pauk yang kasar.

Buatan sendiri atau siap saji?

MPASI buatan sendiri tentunya memberi kepuasan tersendiri bagi Moms. Bonding pun akan semakin meningkat. Makanan yang dipilih harus bersih, bebas pestisida, bahan pengawet serta zat-zat kimia lainnya yang mengganggu kesehatan.

Hindari menggunakan MSG, rasa gurih bisa diperoleh dari kaldu (ayam/daging/ikan). Namun karena berbagai alasan, pemberian MPASI siap saji tidak masalah, asalkan Moms tetap memerhatikan komposisi zat gizi pada kemasan, kesesuaian umur dan tanggal kadaluwarsa.

MPASI Dapat Dimasak dengan...

1. Direbus. Hati-hati jangan sampai merebus sayur atau buah terlalu lama (overcooked).

2. Microwave. Iris sayuran/buah dan taruh dalam piring khusus untuk microwave. Tambahkan sedikit air dan masak hingga lunak. Haluskan dan aduk rata.

3. Dikukus. Cara ini adalah yang sangat ideal untuk  menjaga rasa dan juga vitamin dalam sayuran/buah. Vitamin B dan C adalah vitamin yang larut dalam air dan sangat mudah hilang/rusak apabila dimasak terlalu lama, terutama jika direbus.

Variasi MPASI ala pakar kuliner Budi Sutomo

- Usia 6-8 bulan

Bubur Susu Labu Kuning

Bahan:
100 g labu kuning, kukus hingga matang dan lembut
60 ml ASI atau 1 sdm susu formula lanjutan sesuai usia
60 ml air hangat

Cara Membuat:

1. Haluskan labu kuning yang telah dikukus hingga lembut. Campur dengan ASI atau larutan susu formula sesuai usia. Aduk rata.

2. Tuang bubur susu ke dalam mangkuk saji. Hidangkan untuk 1 porsi

- Usia 8-9 bulan

Bubur Oat Salmon

Bahan:
3 sdm havermut
150 ml kaldu daging
50 ml ASI/larutan susu formula lanjutan sesuai usia
40 g daging ikan salmon, cincang
½ sdm bawang bombay cincang
¼ sdm irisan daun seledri

Cara Membuat:

1. Didihkan kaldu, masukkan havermut, daging salmon, bawang bombay dan irisan daun seledri, aduk rata. Masak hingga semua bahan matang. Angkat.

2. Lalu saring bubur, masukkan ke dalam mangkuk saji, tambahkan ASI/larutan susu formula, aduk rata. Hidangkan untuk 2 porsi

- Usia 10-12 bulan

Nasi Lunak Tahu

Bahan:

4 sdm beras
200 ml kaldu ayam
100 ml larutan susu formula lanjutan sesuai usia
30 g tahu putih, cincang kasar
1 sdm potongan wortel
¼ sdm parutan keju
½ butir telur ayam kampung, kocok lepas

Cara Membuat:

1. Didihkan kaldu, masukkan beras dan wortel, masak hingga mendidih.

2. Masukkan tahu, kocokan telur dan parutan keju. Masak hingga semua bahan matang. Sesaat sebelum diangkat, masukkan ASI/larutan susu formula lanjutan, aduk sebentar. Angkat.

3. Tuang nasi ke dalam mangkuk saji. Hidangkan untuk 2 porsi.