Hari Ini
 
Mon
Jun
2018
18
 
Menu Utama
Utama
Info
Profile
Jaringan
Pencarian
Visi dan Misi
Galleri Foto
Kontak Kami
Karir
Pelayanan
Medical Check Up
CornerAds By F-Cimag-In
Live Clock Module
 
Utama arrow Info arrow Tips arrow Suka Mendengkur Bikin Kinerja Seks Anda Turun
Suka Mendengkur Bikin Kinerja Seks Anda Turun PDF Print E-mail

 13 Januari 2011

 

   MENDENGKUR, kondisi yang paling ingin dihindari ini menyerang 40 persen pria secara musiman dan 25 persen pria lainnya menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Sedangkan, wanita mendengkur hanya ada sekitar  5-10 persen. Bila dengkuran sudah menjadi bagian dari kebiasaan, hendaknya  perlu dilakukan beberapa tindakan penanggulangan.


Sedangkan apnea adalah sebuah keadaan saat pernapasan berhenti. Apnea yang terjadi kala tidur disebut apnea tidur. Dalam apnea tidur obstruktif, terdapat penghentian aliran udara kendati upaya pernapasan pada saat tidur memang menurunkan kadar oksigen dalam darah dan akumulasi karbondioksida.

“Otak memerlukan kadar oksigen yang konstan, sehingga jantung harus selalu berupaya memompa lebih keras guna memberikan kadar oksigen yang tepat ke otak di kala tidur. Jangka panjangnya, hal ini dapat memicu terjadinya stroke atau risiko penyakit jantung lainnya. Otak diharapkan mampu mengirimkan sinyal ke jantung untuk meningkatkan pengeluaran  dan meringankan aktivitas tidur sebagai hasil peningkatan tonus otot, serta berkurangnya sumbatan saluran napas bagian atas. Rangkaian kejadian ini diharapkan dapat mengatasi gangguan yang dialami penderita kurang tidur dan mengurangi rasa kantuk berlebih di siang hari,” ulas Dr Ralph E Stanley FRCS, konsultan senior Stanley Ear Nose Throat & Sinus Centre, Gleneagles Medical Centre, Singapura.


Kondisi lain, kata Dr Ralph adalah sindroma tahanan saluran napas bagian atas, yang merupakan area abu-abu antara mendengkur dan sindroma apnea tidur. Pada kondisi ini terjadi penghentian parsial aliran udara yang mengakibatkan meningkatnya intensitas terbangun di malam hari, seperti yang terjadi di sindroma apnea tidur dengan mekanisme yang berbeda.


“Penderita sindroma ini juga mengalami rasa kantuk yang berlebih di siang hari, dengan angka polisomnografi mendekati normal dan peningkatan indeks gairah,” jelasnya.


Menurutnya, gejala klinis sindroma apnea tidur terbagi menjadi dua bagian, kala tidur dan kala siang. Di kala tidur, penderita mengeluarkan suara dengkuran, tersedak, terengah-engah, gelisah, sering buang air kecil, dan mengeluarkan keringat berlebih. Sedangkan kala siang, penderita mengalami rasa kantuk berat, nyeri kepala di pagi hari, lebih rentan tersulut emosi, penurunan kinerja seksual dan tampak depresi/cemas.


“Mengorok dan sindroma apnea tidur kerap terjadi di masyarakat. Variasi usia penderita yang mengalami gangguan ini, memiliki rentang yang cukup lebar. Kendati anak-anak hendaknya tidak mengorok atau bernapas dengan mulut, namun beberapa kasus ditemukan pada penderita anak yang mengalami pembesaran tonsil dan adenoid. Tindakan pembedahan untuk menyingkiran jaringan terkait yang membesar, memberikan hasil yang sangat memuaskan,” tutupnya