Hari Ini
 
Sat
Jul
2018
21
 
Menu Utama
Utama
Info
Profile
Jaringan
Pencarian
Visi dan Misi
Galleri Foto
Kontak Kami
Karir
Pelayanan
Medical Check Up
CornerAds By F-Cimag-In
Live Clock Module
 
Utama arrow Info arrow Tips arrow Diare Kerap Terjadi pada Anak di Negara Berkembang
Diare Kerap Terjadi pada Anak di Negara Berkembang PDF Print E-mail

 22 Desember 2010

 

   DI tahun 2006 hasil penelitian oleh Rotavirus Vaccine Program (yayasan amal yang berbasis di Seattle, Washington, Amerika) diketahui 40 persen dari 29 spesialis kesehatan anak menyebutkan bahwa AIDS, tubercolosis dan malaria merupakan tiga penyakit paling mematikan pada anak-anak. Namun pada kenyataannya, tiga penyakit yang paling banyak memakan korban anak-anak adalah pneumonia, diare dan malaria.

 

Di seluruh dunia terdapat 1.9 juta balita meninggal setiap tahunnya akibat berbagai macam gangguan diare. Menurut WHO, sekitar 2/3 di antaranya (1.3 juta) terjadi di 15 negara di Asia dan Afrika. Diare merupakan pembunuh berbahaya di negara berkembang – lebih dari 5.000 anak meninggal akibat diare setiap harinya. Angka tersebut seharusnya bisa dicegah.


Salah satu alasan utama mengapa diare banyak terjadi di negara berkembang adalah karena permasalahan ini tidak mendapat perhatian selayaknya. Selain itu, kurangnya fasilitas kesehatan di negara berkembang, kurangnya air bersih, infrastruktur kesehatan yang tidak baik dan para orangtua yang tidak mengetahui cara mengatasi dehidrasi juga memegang peran dalam meningkatkan angka diare.


Penyebab diare dapat menular, namun bisa juga tidak menular, termasuk bakteria, virus, parasit dan racun/bahan kimia yang terkontaminasi. Mekanisme pejangkitan yang paling utama untuk pathogen adalah fecal melalui mulut (dari menghisap jempol dan mengambil sesuatu dari lantai). Mencuci tangan, minum air bersih dan mengkonsumsi makanan matang merupakan beberapa kunci utama menghindari diare pada anak. Peran serta orangtua, lingkungan dan pemerintah sangatlah penting untuk menekan jumlah diare, khususnya di Indonesia. (Sumber Samitivej Hospital, Bangkok, Thailand)