Hari Ini
 
Fri
Apr
2018
27
 
Menu Utama
Utama
Info
Profile
Jaringan
Pencarian
Visi dan Misi
Galleri Foto
Kontak Kami
Karir
Pelayanan
Medical Check Up
CornerAds By F-Cimag-In
Live Clock Module
 
Utama arrow Info arrow Tips arrow Lupus, Misteri Penyakit Seribu Wajah
Lupus, Misteri Penyakit Seribu Wajah PDF Print E-mail

 11 Mei 2010

 

     JUMLAH penderita lupus di Indonesia terus meningkat. Tahun ini angka penderita lupus mencapai 10.000 orang. Gejala yang berbeda-beda membuat lupus masih sulit dideteksi dan belum bisa disembuhkan.

Lupus, penyakit ini masih menyimpan sejumlah misteri. Buktinya hingga kini penyebab penyakit tersebut belum diketahui secara pasti. Obat penyembuh pun belum ditemukan. Parahnya lagi, penyakit ini juga memiliki gejala yang berbeda-beda, sehingga dokter pun sulit mendeteksi. Ujungnya, penderita penyakit ini pun terus meningkat.


 

Data dari Yayasan Lupus Indonesia mencatat, di Indonesia terdapat 10.000 odapus (orang dengan penyakit lupus). Di luar angka tersebut, masih banyak odapus yang tidak terdeteksi. Artinya, jumlah odapus bisa jadi lebih banyak dari data tersebut. Sementara itu, di dunia terdapat 5 juta orang yang hidup dengan lupus. Di Amerika Serikat terdapat 1,2 juta orang yang terkena lupus.

“Lupus adalah suatu penyakit auto imun di mana sistem kekebalan tubuh (antibodi) penderita lupus yang seharusnya melindungi tubuh, malah merusak sistem tubuh sendiri,” kata dokter pemerhati lupus, Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM, saat menghadiri acara Hari Lupus Sedunia yang digelar di Taman Menteng, baru-baru ini.

Sistem kekebalan tubuh memiliki peran yang sangat penting dalam tubuh, karena berfungsi sebagai perlindungan untuk tubuh manusia dari serangan antigen. Namun, apabila sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan maka akan mengakibatkan timbulnya penyakit lupus.

Dikatakan ahli hematologi onkologi medik dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Prof Zubairi Djoerban SpPD KHOM, lupus dikenal juga sebagai penyakit seribu wajah lantaran tidak ada kasus lupus yang serupa. Setiap odapus memiliki gejala yang berbeda saat terkena lupus.

Zubairi menjelaskan, jika dalam kondisi normal, sistem kekebalan tubuh berperan untuk melindungi tubuh kita dari virus, bakteri dan ancaman dari luar lainnya. Pada kasus lupus, sistem tersebut tidak dapat membedakan ancaman dari luar dan jaringan sel itu sendiri. Akibatnya sistem kekebalan tersebut justru membuat antibodi yang menyerang sel sehat pada tubuh penderita.

“Jika ada seseorang muda terdapat ruam merah pada wajah, sakit atau nyeri pada tubuh, setelah diperiksakan ke dokter tidak sembuh-sembuh, maka perlu dicurigai dia terkena lupus,” papar dokter yang juga menjadi penasihat medik Yayasan Lupus Indonesia ini.

Setiap individu penderita lupus mempunyai gejala ataupun faktor timbul yang berbeda. Penyakit ini bukan penyakit yang menular, namun bisa diturunkan karena faktor genetik. Diperkirakan, penyebab lain timbulnya penyakit lupus ini ialah faktor lingkungan seperti sinar matahari,obat, dan intervensi virus.

Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita dibandingkan lakilaki. Sampai sekarang penyebab itu masih belum diketahui pasti. Namun, salah satunya karena meningkatnya hormon estrogen yang umumnya ada pada perempuan.

Karena sering menyerupai penyakit lain, penyakit ini sering disebut dengan penyakit 1.000 wajah. Untuk itu dibutuhkan ketelitian dari para dokter dalam mendiagnosis penyakit yang dialami orang dalam lupus ini (odapus).

Masih dikatakan Zubairi, organ tubuh yang sering terkena adalah ginjal, jantung, paru, otak, darah, dan kulit. Sedangkan gejala yang sering dijumpai adalah sakit pada sendi, demam, sendi bengkak, lelah berkepanjangan, ruam pada kulit, anemia, dan gangguan ginjal. Sejumlah gejala lain adalah sakit di dada saat menarik napas dalam, ruam bentuk kupu-kupu melintang pada pipi dan hidung, sensitif pada matahari atau sinar, rambut rontok, jari jadi putih atau biru saat dingin, stroke, dan sariawan.

”Lupus juga bisa menyerang bagian saraf,” ujar ahli syaraf dari Departemen Kesehatan, dr Adre Mayza SpS, dalam acara yang sama. Adre menuturkan, terkadang dokter “tertipu” ketika mendiagnosis pasien, terutama jika sarana dan pengetahuan dokter mengenai lupus kurang memadai.

Jadi, saya tidak bisa bayangkan bagaimana dengan penderita lupus yang di desa,” ujar dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Indonesian Society of Hypertention (InaSH) ini.

Masih dikatakan Adre, jika dokter yang memeriksa tidak jeli dan tidak begitu mengetahui tentang penyakit ini maka bisa saja memberikan diagnosis yang kurang tepat.

Oleh sebab itu, diperlukan pemahaman untuk mengetahui tanda-tanda penyakit ini, agar jumlah penderita yang belum terdiagnosis bisa berkurang.